4

Siapa dia..sungguh aku tidak mengenalnya..
Siapa dia..banyak orang yg membicarakan kebaikannya..
Siapa dia..ya Rabb..hanya sekilas yg aku dengar tentangnya..
Benarkan beliau salah seorang penyeru dijalanMu ya Rabb..?

Sudah usaikah tugasnya di bumi-Mu ini ya Rabb..?
Sudah lelahkah dirinya untuk berjalan di bumi-Mu ini ya Rabb..?
Atau….Kau ingin beliau berada lebih dekat lagi dengan-Mu ya Rabb..?
Atau …Kau ingin hapuskan semua peluh di tubuhnya ya Rabb..?

Aku tidak mengenalnya ya Rabb..
Namun..dada ini bergetar mendengar berita wafatnya..
Aku tidak mengenalnya ya Rabb..
Tapi mata ini tak kuasa lagi menahan airnya..

Rabb..Engkau lebih berhak memanggil orang alim itu..
Namun..tinggalkanlah ilmu kebenaran-Mu pada kami..
Rabb..andai jasad itu harus terkubur..
Jangan lah..Kau kubur juga pelajaran dari-Mu..

Rabb..aku tidak mengenalnya..
Tapi ku ingin Kau lipat gandakan amal baiknya..
Rabb..aku tidak mengenalnya..
Tapi ku ingin Kau sudi hapuskan semua khilafnya..

Rabb..Rasul-Mu lama telah tiada….
Namun..ruh perjuangannya masih Kau pancarkan..
Dan ijinkanlah kami untuk tetap menjaganya..
Melalui diri-diri yg Kau pancarkan cahaya-Mu..

Rabb..jalan kebenaran-Mu masih panjang..
Maka..lahirkanlah sejuta pejuang kebenaran-Mu yg lain..
Rabb..bumi ini kepunyaan-Mu..
Maka jangan biarkan penentang-Mu menguasainya..

Jum’at 20 April 2007

By
suhana032003@yahoo.com

Continue Reading

Mengendalikan Amarah

Published on 11 Juli 2010 by admin in Kajian Islam, Utama

5

Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah, ”Berpesanlah kepadaku.” Lalu, Rasul bersabda, ”Jangan marah.” Beliau mengulangi perkataannya itu berkali-kali (HR Bukhari).

Ada tiga hal yang diperingatkan Allah SWT dan Rasul-Nya agar kita tidak tergelincir dalam kehinaan. Salah satunya adalah marah. Pada prinsipnya, Islam tidak melarang kita marah sebab hal itu sangat manusiawi. Dalam Islam, marah terbagi dua, tercela dan terpuji. Marah yang tercela adalah kemarahan yang lahir dari dorongan nafsu. Rasulullah melarang marah yang timbul dari nafsu sebab dapat membutakan seseorang dari kebenaran dan menjadi pemicu semua keburukan.

Rasulullah bersabda, ”Marah adalah awal segala keburukan.” (Muttafaq Alaih). Marah tidak dapat menyelesaikan masalah, bahkan dapat memperkeruh masalah. Pada kali lain, Rasulullah bersabda, ”Marah adalah api setan yang menyala, yang mencelakakan dan membongkar aib seseorang. Orang yang menahan marah ibarat memadamkan api dan yang membiarkannya berarti telah menyalakan api dengan kemarahan.”

Rasulullah mengajarkan beberapa hal agar dapat menahan kemarahan. Pertama, selalu melatih diri untuk menahan marah. ”Orang yang kuat bukan yang jago gulat, tetapi yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR bukhari Muslim).

Kedua, berwudhu. ”Sesungguhnya, marah itu dari setan. Setan diciptakan dari api. Api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka, jika salah seorang dari kamu marah, hendaklah ia berwudhu.” (HR Abu Daud).

Ketiga, jika sedang berdiri, duduklah. Jika sedang duduk, tidurlah miring. Ini untuk mendekatkan tubuh orang yang sedang marah ke tanah sehingga ia sadar akan asal penciptaannya dan merasa hina. Lalu, menahan diri dari marah sebab marah timbul dari kepongahan. Keempat, diam. Kelima, berfikir tentang keutamaan orang yang menahan amarah dan bersikap arif kepada orang lain.

Keenam, meminta perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari tipu daya setan. Tidak semua bentuk kemarahan dilarang. Dalam kondisi tertentu, marah malah dibutuhkan dan sangat terpuji. Marah yang terpuji adalah marah yang muncul karena Allah SWT. Kemarahan umat Islam terhadap pelecehan Nabi Muhammad adalah kemarahan yang niscaya. Sebab, ia adalah ekspresi dari ghirah terhadap simbol-simbol agama dan bentuk cinta kepada Rasulullah.

Hikmah Republika

Continue Reading

Fluktuasi Iman

Published on 11 Juni 2010 by admin in Kajian Islam

0

Gb

Iman yang ada dalam hati seorang Muslim tidak tetap dalam satu keadaan, selalu mengalami perubahan. Terkadang naik, terkadang turun. Fluktuasi iman ini sudah disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, ”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

Rasulullah SAW tidak mengingkari keadaan iman yang demikian, oleh karena itu beliau mendorong dan memberi arahan kepada umatnya untuk selalu memperbaharui dan menjaga kondisi iman supaya jangan sampai turun drastis, yang pada akhirnya akan mengantarkan ke dalam jurang kehinaan. Karena dengan kondisi seperti itu akan mudah mengantarkan seseorang untuk berbuat dosa.

Nasihat dan petunjuk Rasulullah itu betul-betul diperhatikan oleh para sahabatnya, karena mereka pun mengakui dan mengalami fluktuasi keimanan. Dalam hal ini Umar bin Khathab berkata kepada sahabat yang lain: ”Marilah kita perbaharui keimanan kita.”

Mu’adz bin Jabal berkata, ”Marilah duduk bersama kami, untuk beriman sesaat.” Perkataan Mu’adz ini bukan menunjukkan bahwa mereka tidak beriman sama sekali, tapi dia mengajak untuk meningkatkan keimanan setelah disibukkan oleh berbagai urusan dunia yang kadang menyebabkan kita lupa pada kondisi iman kita.

Sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menambah keimanan, di antaranya dengan menuntut ilmu, karena dengan ilmu itu akan mengantarkan orang untuk tahu akan Tuhannya. Allah berfirman: ”Sesungguhnya Allah mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” QS Annur [24]: 53).

Cara lain adalah dengan membaca, menelaah, mentadaburi Alquran. Sebagaimana firmannya, ”Katakanlah: Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) dan sembahlah dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata kepada-Nya.” (QS Al A’raf [7]: 29).

Sebaliknya, di antara hal-hal yang menyebabkan keimanan seseorang menurun adalah perbuatan maksiat. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya jika seorang Muslim berbuat dosa, maka terjadilah di hatinya satu bintik hitam. Jika ia bertaubat dan meninggalkan perbuatan itu maka bersihlah kembali hatinya. Jika tidak bertobat dan terus dosanya itu, maka bertambah banyaklah bintik hitam itu sehingga tertutup hatinya. Itulah ron (warna hitam) yang disebut dalam Alquran.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga keimanan kita dan senantiasa meningkatkannya, apalagi di zaman sekarang ini, di mana kemaksiatan semakin merajalela di tengah kita, yang apabila tidak waspada, bisa terperosok ke dalamnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Deden Senjaya )
Republika

Continue Reading

AL-QURAN SUCI

Published on 29 Mei 2010 by admin in Kajian Islam

8

Al-Qur’an Suci ditulis dalam bahasa Arab, akan tetapi secara esensi dan aktulitasnya, ia ditulis di dalam bahasa Tuhan. Hanya mereka yang cinta dan takut pada Tuhanlah yang dapat mengerti arti sejati dari Al-Qur’an, hanya mereka yang dekat kepada-Nya yang memahami bahasa-Nya.
Untuk mengatakan bahwa suatu kitab yang dapat kita pegang dengan tangan kita adalah Al-Qur’an Suci adalah seperti mengatakan bahwa matahari adalah sebuah cermin kecil yang bulat. Bahasa manusia tidaklah mampu menerjemahkan bahasa Al-Qur’an ke dalam suatu pengertian manusia. Kita itu fana, sementara Tuhan adalah kekal.
Al-Qur’an adalah sesuatu yang tidak bertepi. Bila lautan adalah tintanya, dan pohon-pohon di hutan adalah pena-penanya, lelangit dan Bumi adalah kertasnya, lalu sampai akhir waktu seluruh ciptaan menuliskan buku ini—maka tinta itu akan habis, semua pena juga akan habis, demikian pula semua kertas, para malaikat dan seluruh makhluk akan kelelahan—namun tetap saja makna Al-Qur’an tidak akan bisa dijelaskan sepenuhnya.
Segala hal telah tercakup dalam Al-Qur’an—apa-apa yang terjadi sebelum adanya masa dan setelah masa tiada, yang tersembunyi dan terbuka. Apapun terkandung dalam Al-Qur’an. Namun engkau harus punya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, akal untuk memahami dan kalbu untuk merasakan.
Derajat pemahamanmu terhadap al-Quran berbanding lurus dengan kedekatanmu kepada Tuhan. Suatu hari, Ibnu al-’Arabi r.a., seorang sufi besar, terjatuh dari kudanya. Ketika murid-muridnya yang kuatir mendapatkannya, mereka melihatnya tengah duduk di tanah, diam, fana. Sesaat kemudian, ia pun menengadah dan berkata kepada mereka, ”Aku baru saja menafakuri dimana gerangan di dalam Al-Qur’an tercantum bahwa aku akan terjatuh dari kudaku. Aku telah menemukannya, ternyata itu terdapat pada suatu ayat pembukaan surat.”
Al-Qur’an Suci adalah sebuah dokumen. Ia membenarkan seluruh kitab-kitab yang diwahyukan terdahulu beserta kisah-kisah para Rasul yang membawanya. Pada satu tingkat, ia menceritakan tentang sejarah kemanusiaan, sejarah orang-orang yang beriman dan orang-orang tidak-beriman. Ia menunjukkan balasan untuk orang-orang yang beriman dan hukuman bagi orang-orang yang tidak-beriman. Ia mengajak kepada ke-berserah-diri-an dan cinta.
Al-Qur’an Suci mengajarkan kita untuk menjadi insan. Ia mengajarkan tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh, dan apa arti dari cinta. Ia adalah ‘mata’ yang diberikan Allah kepada kita. Siapapun yang memilikinya akan mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang nyata dan mana yang tersembunyi.
Al-Qur’an diwahyukan kepada nabi Muhammad S.A.W. sedikit demi sedikit, dalam suatu periode selama dua-puluh tiga tahun. Setiap kali suatu bagian disampaikan kepadanya, maka sang Nabi akan kehilangan kesadarannya. Dalam malam-malam yang dingin, beliau tetap berkeringat.
Tuhan menyampaikan kepadanya bahwa apabila wahyu ini diturunkan kepada gunung, maka gunung itu akan hancur berantakan. Akan tetapi (kalbu) seorang insan (dapat) lebih kuat daripada gunung. Para sahabat nabi menyaksikan bahwa saat kepada Nabi tengah diturunkan wahyu dari Al-Qur’an ketika beliau sedang berada di atas untanya, maka untanya sampai jatuh terduduk di atas lututnya karena beratnya beban wahyu yang disampaikan.
Pembersihan dari kotornya debu dunia disebutkan dalam Al-Qur’an dengan kelahiran nabi Isa a.s. Kelahirannya yang tidak berbapak adalah sebuah hadiah dari surga. Al-Qur’an pun memberitakan tentang kenabiannya, serta tentang kisah-kisah beliau menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan yang berpenyakit lepra serta menyembuhkan yang buta.
Al-Qur’an Suci adalah suatu kitab tentang pelajaran-pelajaran, sebuah buku tentang kebenaran, sebuah buku tentang cinta. Ia mengajarkan kita tentang kualitas-kualitas para nabi. Ia menunjukkan kepada kita bahwa seharusnya kita menjadi khalifah-Nya di muka Bumi. Jangan biarkan ia meninggalkan tangan, pikiran, atau hatimu. Membaca buku yang lain terus-menerus akan terasa membosankan, tapi tidak untuk kitab yang satu ini. Semakin banyak engkau baca, semakin ingin engkau terus membacanya.
Salah satu keajaiban dari Al-Qur’an adalah bahwa seorang anak berusia lima tahun dapat menghafalnya . Padahal Al-Qur’an terdiri atas 6.666 ayat dan 114 surat. Tidak ada kitab lain yang begitu mudah untuk dipelajari. Dalam setiap abad, terdapat ribuan, bahkan ratusan ribu orang yang telah hafal Al-Qur’an.
Insan itu fana, sedangkan Al-Qur’an adalah abadi. Ia merupakan kitab Allah. Maka bagaimanakah seseorang dapat menghafal Al-Qur’an? Bahkan, bagaimana manusia yang fana berani membaca Al-Qur’an yang abadi? Sebenarnya, Tuhanlah yang melindungi dan menjaga Al-Qur’an yang sesungguhnya – setiap kata dan titiknya. Kalbu insan yang menghafalnya, tetapi sesungguhnya Tuhanlah yang menyimpan Kitab Ilahiah itu di dalam kalbu insan. Tuhanlah yang melantunkan Al-Quran Suci melalui lisan insan.
Al-Qur’an Suci bukanlah sebuah buku yang ditulis dalam bahasa Arab. Seluruh alam raya adalah Al-Qur’an. Ia menjangkau dari yang lebih dahulu daripada yang awal, sampai ke setelah yang akhir. Ia adalah penjelasan yang mencakup segalanya.
Para pecinta Tuhan selalu membaca Al-Qur’an. Mereka yang ikhlas dan selalu berserah-diri kepada-Nya mengerti tentang arti Al-Qur’an. Al-Qur’an ibarat seutas tali. Satu ujung berada dalam genggaman-Nya dan yang satu lagi turun ke Bumi. Siapapun yang berpegang kepada tali itu akan selamat, dan memperoleh ganjaran Kebenaran dan al-Jannah.
Bacalah Al-Qur’an, agar dapat engkau temukan obat bagi segala kesulitanmu.
(dikutip dari buku ‘Cinta Bagai Anggur’ terbitan PICTS)

Continue Reading

Syariat yang Bersih dan Sehat

Published on 01 Mei 2010 by admin in Kajian Islam

1

“Dan di dalam diri binatang-binatang ternak ada pelajaran buat kalian, kami beri minum kalian dari perut-perut binatang ternak itu, di antara tahi dan darah, susu yang mudah dikonsumsi bagi peminumnya.” (QS Al-An’am 66) .

Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, selepas Nabi Muhammad saw memimpin shalat khusus yang dimakmumi para Nabi dan Rasul sebelumnya, Jibril menyodorkan dua gelas minuman, satu berisi susu dan yang lain berisi khamer (minuman keras). Rasulullah memilih segelas susu. Jibril berkomentar, “Anda mendapatkan petunjuk kepada fitrah, demikian pula umatmu, wahai Muhammad.”

Pernyataan Jibril ini mengisyaratkan bahwa syariah yang dibawa oleh Muhammad saw adalah dilambangkan dengan susu. Susu adalah minuman sehat bergizi tinggi yang sering kita kenal dalam program empat sehat lima sempurna. Susu adalah penyempurna. Susu adalah zat penyempurna bagi pertumbuhan hidup manusia. Individu maupun masyarakat yang memiliki tradisi minum susu akan tumbuh sehat secara fisik. Dalam konteks kesehatan masyarakat, baik fisik maupun mental, pelambangan syariah sebagai susu yang dikontrakan dengan minuman keras tentu memiliki makna yang dalam. Betapa penting arti susu bagi kesehatan individu dan masyarakat, sampai-sampai Allah SWT mengungkapkannya dalam ayat di atas, agar kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Imam Az Zamakhsyari dalam tafsirnya Al Kassyaf Juz 2/615 mengatakan bahwa ayat tersebut merupakan pelajaran karena Allah SWT menciptakan susu di antara tahi dan darah yang ternyata tidak membuatnya terkontaminasi oleh kedua zat tersebut, baik warna, bau, maupun kandungan zatnya. Betapa agung kekuasaan Allah SWT dan betapa lembut hikmahnya bagi orang yang memperhatikan dan memikirkannya.

Syariat Islam diturunkan Allah SWT kepada bangsa Arab jahiliyah. Mereka hidup di antara syariat Ibrahim yang telah terkontaminasi dengan berbagai tradisi rusak jahiliyah menyertai penyembahan berhala serta tradisi Yahudi dan Nasrani yang telah jauh menyimpang dari ajaran Nabi Musa maupun Isa. Kitab Taurat maupun Injil telah terkontaminasi oleh tangan-tangan para rahib dan pendeta-pendeta mereka. Syariat Islam mempertahankan akidah tauhid yang dibawa Musa, Isa, maupun Ibrahim, dan para nabi lainnya, sekaligus menyempurnakan seluruh ajaran dan hukum-hukum yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya.

Syariat Islam adalah ajaran sempurna yang menghidupkan manusia dengan seluruh sifat kemanusiaannya. Penerapan syariah akan mewujudkan tujuan-tujuan luhur bagi pemeliharaan individu maupun masyarakat manusia, khususnya masyarakat Muslim.


Continue Reading

Berkhalwat

Published on 23 April 2010 by admin in Perempuan & Keluarga, Utama

7

Di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, Shafiyyah binti Huyay datang menziarahi Nabi SAW yang sedang iktikaf di masjid. Shafiyyah lantas bercakap-cakap dengan Nabi beberapa saat usai shalat Isya’. Setelah itu, Shafiyyah–salah seorang istri Nabi–berdiri untuk kembali. Nabi pun mengantarnya hingga di pintu masjid dekat dengan tempat Ummu Salamah, istri Nabi yang lain. Tetapi, tiba-tiba ada dua orang pria Anshar mengucapkan salam. Mereka lewat dan langsung pergi dengan buru-buru.

”Tinggallah di tempat kalian, sesungguhnya ia adalah Shafiyyah binti Huyay!” Rasulullah SAW berseru kepada kedua pria itu. Kedua orang itu pun terkejut seraya mengucapkan, ”Mahasuci Allah! Duhai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak mengatakan seperti itu.” Nabi kemudian bersabda, ”Sesungguhnya setan memasuki anak Adam melalui peredaran darahnya. Aku khawatir, ia memasuki tubuh kalian berdua.”

Hadis Ali bin al-Husain dari Shafiyyah binti Huyay tersebut di atas bisa dipahami bahwa Nabi menjelaskan perkara syubhat yang ada dalam diri dua sahabatnya. Beliau mengkhawatirkan kejadian tersebut akan menimbulkan fitnah. Selain itu, hadis tersebut juga mengindikasikan adanya larangan berkhalwat. Larangan itu berlaku bagi siapa saja, apa pun kedudukannya. Baik dia itu seorang ustaz, guru agama, kiai, dan siapa pun.

Berkhalwat itu terjadi ketika seorang pria menyendiri dengan seorang wanita bukan mahramnya di suatu tempat (sunyi, jauh dari jalan atau keramaian) yang tidak mungkin orang lain untuk bergabung dengan keduanya. Pada saat itulah mereka sebenarnya sedang ditemani setan. Dari Jabir, Rasulullah bersabda, ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai oleh mahramnya karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan.”

Secara realita, berkhalwat menjadikan pria hanya mengenal wanita sebatas ”perempuan” sekaligus menjadikan wanita hanya mengenal pria sebatas ”laki-laki”. Keduanya akan didorong setan untuk melihat lawan jenisnya dari sudut pandang seksual semata.

Oleh karena itu, larangan berkhalwat merupakan tindakan preventif bagi pria maupun wanita dari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, yang menyebabkan berbagai kerusakan. Karena khalwat merupakan sarana yang dapat mengarahkan kepada perbuatan zina yang merusak tatanan sosial kemasyarakatan. Fitnah, gosip, prasangka buruk, dan perbuatan destruktif lain akibat perbuatan berkhalwat bisa merusak hubungan baik antarmanusia, termasuk meretakkan keutuhan rumah tangga. 

Continue Reading

1

Tuhan memberi dua predikat kepada manusia, yaitu sebagai hamba Allah
(Abdullah) dan wakil Allah (khalifatullah). Karakteristik hama adalah
lemah, kecil dan terbatas. Sedangkan karakteristik khalifatullah
adalah besar, bebas dan memikul tanggungjawab. Ada manusia yang
konsep dirinya lebih sebagai hamba, maka ia tidak memiliki rasa
percaya diri, dan menghindari tantatangan hidup dengan berpasrah diri
kepada nasib. Ada yang konsep dirinya lebih merasa sebagai
khalifatullah, yang oleh karena itu ia selalu tertantang untuk
mengatasi problem, membela yang lemah dan menyebarluaskan
kemanfaatan. Yang proporsional adalah semestinya manusia merasa
dirinya kecil dalam dimensi vertical, dan harus merasa besar dalam
dimensi horizontal.

Manusia juga dianugerahi dua tabiat; suka kerjasama dan suka
bersaing. Ketika bekerjasama atau ketika bersaing, ada yang lebih
dikendalikan oleh akalnya, ada yang lebih dikendalikan oleh hatinya,
oleh nuraninya, oleh syahwatnya dan ada yang lebih dikendalikan oleh
hawa nafsunya. Oleh karena itu kualitas kerjasama dan kualitas
persaingan berbeda-beda dipengaruhi oleh apa yang paling dominant
pada dirinya dari lima subsistem itu. Kerjasama bisa terasa indah,
bisa juga menyakitkan. Persaingan juga bisa melahirkan keindahan,
bisa juga melahirkan permusuhan.

Dasar-Dasar Perilaku

Karakter Manusia tidak terbentuk secara tiba-tiba, tetapi bermodal
tabiat bawaan genetika orang tuanya kemudian terbangun sejalan dengan
proses interaksi social dan internalisasi nilai-nilai dalam medan
Stimulus dan Respond sepanjang hidupnya. Perilaku manusia tidak cukup
difahami dari apa yang nampak, tetapi harus dicari dasarnya. Tidak
semua senyum bermakna keramahan, demikian juga tidak semua tindak
kekerasan bermakna permusuhan. Diantara yang mendasari tingkah laku
manusia adalah :

* Instinc. Instinc bersifat universal; seperti (1) instinct menjaga
diri agar tetap hidup, (2) instinct seksual dan (3) instinct takut.
Semua manusia memiliki instinct ini.

* Adat kebiasaan. Perbuatan yang diulang-ulag dalam waktu lama oleh
perorangan atau oleh kelompok masyarakat sehingga menjadi mudah
mengerjakannya, disebut kebiasaan. Cara berjalan, cara mengungkapkan
kegembiraan atau kemarahan, cara berbicara adalah wujud dari
kebiasaan. Orang merasa nyaman dengan kebiasaan itu meski belum tentu
logis.

* Keturunan. Ajaran Islam menganjurkan selektip memilih calon
pasangan hidup, karena karakteristik genetika orang tua akan menurun
kepada anaknya hingga pada perilaku.

* Lingkungan. Menurut sebuah penelitian psikologi; 83% perilaku
manusia dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar
dan 6% sisanya oleh berbagai stimulus.

* Motivasi. Setiap manusia melakukan sesuatu pasti ada tujuan yang
ingin dicapai. Motivasi melakukan sesuatu bisa karena (a) keyakinan
terhadap sesuatu, (b) karena terbawa perilaku orang lain, (c) karena
terpedaya atau terpesona terhadap sesuatu.

* Keinsyafan. Keinsyafan merupakan kalkulasi psikologis yang
berhubungan dengan (a) ketajaman nurani, atau (b) kuatnya cita-cita
atau (c) kuatnya kehendak.

Wassalam,
agussyafii

Continue Reading

1

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga pak ustadz terus dipimpin oleh hidayah dan taufiq dari Alllah untuk menjawab segala permasalahan ummat.

Saya baru masuk Islam sekitar satu tahun yang lalu dan keputusan itu saya buat tanpa pengetahuan keluarga saya. Mereka sangat kecewa apabila bahwa saya telah tukar agama, tapi setelah saya jelaskan sebab saya memilih Islam dan keyakinan saya padanya, mereka menerima keputusan saya dan malah sangat senang menerima saya di rumah.

Masalahnya ialah keluarga saya biasa makan babi. Memang mereka mengetahui keharaman babi bagi umat Islam dan tidak pernah menghidangkannya di hadapan saya tapi saya khawatir tentang penggunaan bekas makan dan minum yang digunakan apabila makan bersama mereka.

Apakah ada keringanan untuk saya menggunakan bekas makanan dan minuman yang telah mereka gunakan?

Apakah saya perlu membasuh bekas makanan sebanyak tujuh kali jika saya ingin menggunakannya.?
Apakah perlu untuk saya memiliki satu set bekas makanan dan minuman untuk saya seorang?

Bagaimana pula dengan perkakas memasak seperti periuk, kuali dan lain-lain?

Saya sangat khawatir kalau batas-batas ini menyusahkan mereka dan melonggarkan hubungan saya dengan keluarga. Sebab itu selama ini, saya makan dan minum saja dengan bekas yang mereka gunakan.
Mohon penjelasan yang seksama dari pak ustadz. Sekiranya perlu ada
batasan bagaimanakah cara terbaik untuk saya jelaskan pada keluarga
saya?

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

WA

Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kami ucapkan selamat datang di dalam hidayat dan petunjuk. Sungguh anda telah sukses menetapkan pilihan. Tidak semua orang mendapat hidayah seperti yang anda terima. Tentunya semua itu perlu disyukuri.

Terkait dengan hubungan anda dengan keluarga anda yang masih belum menganut agama Islam, kami sarankan sebaiknya anda tetap bermuamalah yang baik dengan mereka. Islam tidak mengajarkan anda harus memusuhi keluarga anda sendiri, hanya karena berbeda keyakinan.

Anda tetap bisa berbakti kepada kedua orang tua, beramal shalih kepada kakak dan adik serta anggota keluarga lainnya. Dan untuk semua yang anda lakukan, anda tetap akan mendapat pahala dari Allah SWT. Jangankan kepada keluarga yang non muslim, bahkan anda memberi minum seekor anjing kehausan pun akan dibalas dengan pahala dari Allah SWT.

Bahkan kami menilai bahwa anda punya kesempatan untuk meraih pahala yang jauh lebih besar lagi. Dan kesempatan itu ada persis di depan hidung anda. Yaitu menjadi duta Islam di tengah keluarga anda sendiri.

Siapa tahu dengan misi mulia ini, Allah SWT berkehendak untuk memberi petunjuk kepada mereka. Kita tidak perlu memaksa, tetapi berusaha kan boleh. Siapa tahu usaha kita dihargai Allah dalam bentuk kongkrit, misalnya dengan tertariknya mereka masuk Islam. Atau minimal tidak
memandang Islam dengan cara yang salah.

Untuk itu, tugas di pundak anda memang agak istimewa. Karena anda dituntut untuk menampilkan performa seorang muslim yang memang seharusnya rahmatan lil-’alamin.

Bukankah Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlaq?
Maka tampilkan akhlaq anda yang paling mulia. ‘Beli’ lah simpati mereka dengan kejujuran, ketulusan hati, keikhlasan, pengorbanan, pertolongan yang tanpa pamrih serta wajah yang menyejukkan.

Kita tidak diperintahkan untuk berkeras hati kepada keluarga sendiri, meski mereka masih belum mendapat hidayah. Apalagi kalau kita mengingat bahwa hidayah urusan Allah SWT. Jangankan anda, bahkan seorang nabi Muhammad SAW pun tidak berhasil memberi hidayat kepada pamannya sendiri,
Abu Thalib. Padahal semua jalur dan jalan sudah diupayakan, tetapi hidayah adalah urusan Allah.

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.(QS.Al-Qashash: 56)

Namun kita tetap diwajibkan untuk berbaik-baik dengan mereka, sesuai firman Allah SWT:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(QS. Ali Imran: 159)

Salah satu rahasia sukses dakwah nabi Muhammad SAW adalah perasaan orang-orang kafir yang tersanjung oleh adanya dakwah itu, bahkan meski mereka belum tentu mau masuk Islam. Tetapi penghargaan nabi SAW kepada mereka sangat membuat mereka merasa dihormati, dihargai dan
dimanusiakan.

Barangkali pada sisi ini kita perlu belajar lebih banyak lagi. Misalnya, bagaimana beliau SAW tetap memberi daging kepada tetangganya yang non muslim ketika menyembelih kambing. Atau ketika beliau memberikan harta dari baitulmal kepada para pemimpin kabilah musyrikin, agar mereka
senang dan menghentikan permusuhan kepada beliau. Bayangkan betapa kaum musyrikin Makkah masih mempercayakan penitipan mereka di tangan Rasulullah SAW, padahal hari itu adalah hari
terakhir beliau SAW berada di Makkah menjelang hijrah ke Madinah.

Renungkan ketika beliau menulis surat kepada para raja dunia dan menjamin bahwa kekuasaan dan kerajaan mereka akan tetap utuh.

Semua itu menunjukkan bahwa Islam sangat dikagumi bukan hanya oleh umatnya, tetapi oleh pemeluk agama lain, bahkan oleh kalangan yang memusuhinya.

Sekarang, tinggal anda memainkan peranan itu. Najis Babi pada Alat Makan. Memang benar bahwa babi termasuk najis mughollazhah (berat). Tidak bisa disucikan kecuali dengan cara mencuci bekas najis itu dengan air tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.

Namunketahuilah bahwa sesungguhnya keluarga anda itu pun pada dasarnya diharamkan memakannya. Sayangnya, para pemuka agama mereka telah melakukan penyimpangan ajaran, sehingga seolah-olah agama mereka menghalalkan babi. Padahal, semua agama yang Allah turunkan telah mengharamkan babi.

Jadi pada dasarnya anda tidak perlu merasa harus terlalu bersalah, ketika anda tidak makan babi di tengah keluarga anda. Bahkan seharusnya, mereka lah yang merasa bersalah, karena telah melanggar agama mereka sendiri.

Namun lepas dari masalah ini, ada baiknya bila anda juga tetap menjaga perasaan mereka. Anda tidak perlu secara demonstratif menunjukkan kebencian dan ketidak-sukaan anda kepada mereka.

Kalau anda tidak ingin makan dari alat-alat makan yang mungkin masih terkena najis babi, maka cobalah anda punya alat makan sendiri. Di mana anda yakin bahwa alat makan pribadi anda itu tidak tercemar dengan najis abi.

Tetapi sekali lagi, lakukanlah semua itu dengan sopan tanpa harus
menunjukkan perbedaan sikap.

Bahkan tidak salah kalau anda sesekali ikut membantu urusan dapur,
misalnya anda ikut mencuci semua alat makan. Dan karena anda yang
mengerjakannya, anda bisa melakukannya dengan ritual pensucian, yaitu 7
kali dan salah satunya dengan tanah.

Tapi sekali lagi, lakukan tanpa harus menimbulkan ketersinggungan di
hati keluarga anda. Semoga Allah membalas anda dengan pahala yang besar
di hari akhir kelak, amin.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

support by:

umroh-haji.net

Continue Reading

9

Buat para suami baca ya….. istri & calon istri juga boleh…
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih dari 32 tahun.

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. …bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.
“Anak2ku…. ….. Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah….. .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.
Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh di pelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.

*”Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”

support by:

umroh-haji.net

Continue Reading

5

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.

Pemuda : Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?

Kyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.

Pemuda : Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu
menjawab pertanyaan saya.

Kyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya

Pemuda : Saya punya 3 buah pertanyaan
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir
3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka dibuat dari api, tentu tidak
menyakitkan buat syetan, sebab mereka memiliki unsur yang sama Apakah Tuhan tidak pernah
berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.

Pemuda (sambil menahan sakit) : Kenapa anda marah kepada saya?

Kyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang
anda ajukan kepada saya

Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti

Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit

Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

Pemuda : Ya

Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !

Pemuda : Saya tidak bisa

Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa
mampu melihat wujudnya.

Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

Pemuda : Tidak

Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?

Pemuda : Tidak

Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir

Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?

Pemuda : Kulit

Kyai : Terbuat dari apa pipi anda?

Pemuda : kulit

Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Sakit

Kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak
maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan.

Source: Unknown

Continue Reading

PHVsPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hZHNfcm90YXRlPC9zdHJvbmc+IC0gdHJ1ZTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX2NvbnRlbnRfYWRzZW5zZTwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX2NvbnRlbnRfZGlzYWJsZTwvc3Ryb25nPiAtIHRydWU8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hZF9jb250ZW50X2ltYWdlPC9zdHJvbmc+IC0gPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYWRfY29udGVudF91cmw8L3N0cm9uZz4gLSA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hZF9pbWFnZV8xPC9zdHJvbmc+IC0gaHR0cDovL3d3dy53b290aGVtZXMuY29tL2Fkcy93b290aGVtZXMtMTI1eDEyNS0xLmdpZjwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX2ltYWdlXzI8L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vd3d3Lndvb3RoZW1lcy5jb20vYWRzL3dvb3RoZW1lcy0xMjV4MTI1LTIuZ2lmPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYWRfaW1hZ2VfMzwvc3Ryb25nPiAtIGh0dHA6Ly93d3cud29vdGhlbWVzLmNvbS9hZHMvd29vdGhlbWVzLTEyNXgxMjUtMy5naWY8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hZF9pbWFnZV80PC9zdHJvbmc+IC0gaHR0cDovL3d3dy53b290aGVtZXMuY29tL2Fkcy93b290aGVtZXMtMTI1eDEyNS00LmdpZjwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX3VybF8xPC9zdHJvbmc+IC0gaHR0cDovL3d3dy53b290aGVtZXMuY29tPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYWRfdXJsXzI8L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vd3d3Lndvb3RoZW1lcy5jb208L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hZF91cmxfMzwvc3Ryb25nPiAtIGh0dHA6Ly93d3cud29vdGhlbWVzLmNvbTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX3VybF80PC9zdHJvbmc+IC0gaHR0cDovL3d3dy53b290aGVtZXMuY29tPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYWx0X3N0eWxlc2hlZXQ8L3N0cm9uZz4gLSBncmV5bWFyb29uLmNzczwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2F1dG9faW1nPC9zdHJvbmc+IC0gZmFsc2U8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19ibG9nX2NhdF9pZDwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2Jsb2dfbmF2aWdhdGlvbjwvc3Ryb25nPiAtIHRydWU8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19ibG9nX25hdmlnYXRpb25fZm9vdGVyPC9zdHJvbmc+IC0gZmFsc2U8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19ibG9nX3Blcm1hbGluazwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2Jsb2dfc2lkZWJhcjwvc3Ryb25nPiAtIEJsb2cgUGFnZXM8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19ibG9nX3N1Ym5hdmlnYXRpb248L3N0cm9uZz4gLSB0cnVlPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYnJlYWRjcnVtYnM8L3N0cm9uZz4gLSB0cnVlPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fY3VzdG9tX2Nzczwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2N1c3RvbV9mYXZpY29uPC9zdHJvbmc+IC0gPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fZGlzY2xhaW1lcjwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2V4Y2x1ZGVfcGFnZXNfZm9vdGVyPC9zdHJvbmc+IC0gPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fZXhjbHVkZV9wYWdlc19tYWluPC9zdHJvbmc+IC0gPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fZXhjbHVkZV9wYWdlc19zdWJuYXY8L3N0cm9uZz4gLSA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19mZWF0X2hlaWdodDwvc3Ryb25nPiAtIDIxMDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2ZlYXRfd2lkdGg8L3N0cm9uZz4gLSAyODA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19mZWVkYnVybmVyX3VybDwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2dvb2dsZV9hbmFseXRpY3M8L3N0cm9uZz4gLSA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19ob21lcGFnZTwvc3Ryb25nPiAtIGxheW91dC1tYWdhemluZS5waHA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19ob21lX3NpZGViYXI8L3N0cm9uZz4gLSBIb21lcGFnZTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2luY19pbnRyb19wYWdlPC9zdHJvbmc+IC0gZmFsc2U8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19pbmNfaW50cm9fcGFnZV9sZWZ0PC9zdHJvbmc+IC0gZmFsc2U8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19pbmNfaW50cm9fcGFnZV9yaWdodDwvc3Ryb25nPiAtIGZhbHNlPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29faW5jX3RhYmJlcl9wYWdlczwvc3Ryb25nPiAtIGZhbHNlPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29faW50cm9fcGFnZTwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2ludHJvX3BhZ2VfbGVmdDwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2ludHJvX3BhZ2VfcmlnaHQ8L3N0cm9uZz4gLSA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19sb2dvPC9zdHJvbmc+IC0gPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fbWFnX2ZlYXR1cmVkPC9zdHJvbmc+IC0gMzwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX21hZ19zZWNvbmRhcnk8L3N0cm9uZz4gLSAxOTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX21hbnVhbDwvc3Ryb25nPiAtIGh0dHA6Ly93d3cud29vdGhlbWVzLmNvbS9zdXBwb3J0L3RoZW1lLWRvY3VtZW50YXRpb24vdGhlLXN0YXRpb24vPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fcGFnZV9zaWRlYmFyPC9zdHJvbmc+IC0gQmxvZyBQYWdlczwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX3Jlc2l6ZTwvc3Ryb25nPiAtIHRydWU8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19zaG9ydG5hbWU8L3N0cm9uZz4gLSB3b288L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19zbGlkZXI8L3N0cm9uZz4gLSBmYWxzZTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX3NtYWxsdGh1bWJfaGVpZ2h0PC9zdHJvbmc+IC0gNDI8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19zbWFsbHRodW1iX3dpZHRoPC9zdHJvbmc+IC0gNTY8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19zdWJuYXY8L3N0cm9uZz4gLSB0cnVlPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fdGFiYmVyX3BhZ2VzPC9zdHJvbmc+IC0gPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fdGhlbWVuYW1lPC9zdHJvbmc+IC0gVGhlIFN0YXRpb248L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb190aGVfY29udGVudDwvc3Ryb25nPiAtIHRydWU8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb190aHVtYl9oZWlnaHQ8L3N0cm9uZz4gLSA3NjwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX3RodW1iX3dpZHRoPC9zdHJvbmc+IC0gMTAwPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fdHdpdHRlcjwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PC91bD4=